0

Kriteria Memilih Suami
Setiap wanita muslimah hendaknya memilih calon suami yang memenuhi ketentuan syariat Islam. Diantara ciri-cirinya adalah:
a. Memilih calon suami yang mempunyai agama dan akhlak, agar ia dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, pendidikan anak, tanggung jawab yang benar dalam menjaga kehormatan dan menjamin material rumah tangga.
Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

"Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau ridha akan agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerima (lamaran) niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas." (HR. Thirmidzi)
Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali, "Saya punya seorang putri, siapakah kiranya orang yang patut jadi suaminya menurut Anda?"
Jawabnya,"Seorang laki-laki yang taqwa kepada Allah. Sebab jika ia senang, ia akan sudi menghormatinya dan jika sedang marah, ia tidak suka dzalim kepadanya."
b. Memilih calon suami yang bukan dari golongan orang fasik tukang pembuat dosa yang dapat memutuskan tali kekeluargaan.
"Siapa saja yang menikahkan saudara perempuannya dengan laki-laki fasik, berarti memutuskan tali kekeluargaan." (diriwayatkan Ibnu Hibban)
Ibnu Tamiyah berkata,"Laki-laki selalu berbuat dosa tidak patut dijadikan suami."
c. Berniat sungguh-sungguh akan menikah bila menemukan wanita yang cocok setelah melihatnya sewaktu meminang.
d. Mempercepat akad nikah dan tidak menggantungkannya untuk jangka waktu yang lama sehingga ada kemungkinan menyurutkan keinginan wanita dan membatalkan pinangan.
e. Tidak berkhalwat dengan wanita yang dipinang.
f. Hanya berkunjung dan masuk ke rumah wanita yang akan dipinang bila disertai mahramnya.
g. Tidak melakukan pembicaraan batil dan sia-sia saat berkunjung.
h. Tidak menyeringkan datang ke rumah wanita yang dipinang.
i. Tidak mencuri pandangan yang dapat membuka pintu-pintu syahwat.
j. Tidak berjabat tangan dengan wanita yang dipinang.
k. Tidak mengambil pinangan orang.
l. Sehat jasmani dan ruhani
m. Tidak berlebih-lebihan dalam berpakaian dan berbicara.
n. Tawadhu.
o. Bergaul dengan orang-orang shaleh.
p. Menghormati orang tua wanita yang dipinang.
q. Rajin bekerja dan berusaha.
r. Optimis.
s. Mengucapkan salam ketika berkunjung dan pulang.
t. Tidak mengobral janji dan berandai-andai.

to be continued...

Dikirim pada 29 Oktober 2009 di idaman


20 tanda dan bukti cinta


Pertama, menghujamkan pandangan mata, pandangan mata seorang pecinta itu hanya tertuju pada orang yang dicintai.
Kedua, malu-malu jika orang yang dicintai memandangnya, maka dari itu didapati seorang pecinta hanya bisa memandang kebawah, kepermukaan tanah, disebabkan rasa sungkannya terhadap orang yang dicintainya.
Ketiga, banyak mengingat orang yang dicintai, membicarakan dan menyebut namanya.
Keempat, tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingannya sendiri.
Kelima, bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai, yaitu bersabar dalam menghadapi kedurhakaan dan bersabar dalam melaksanakan keputusan orang yang dicintai.
Keenam, memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya.
Ketujuh, mencintai tempat dan rumah sang kekasih
Kedelapan, segera menghampiri yang dicintai, kesibukan yang lain ditinggalkan dan menyukai apapun jalan yang bisa mendekatkan dirinya dengan orang yang dicintai.
Kesembilan, mencintai apapun yang dicintai sang kekasih
Kesepuluh, jalan yang terasa pendek-walaupun sesungguhnya panjang-saat mengunjungi sang kekasih.
Kesebelas, salah tingkah jika sedang mengunjungi orang yang dicintai atau sedang dikunjungi orang yang dicintai.
Keduabelas, kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.
Ketigabelas, cemburu kepada orang yang dicintai, cemburunya akan bangkit jika kekasihnya dijahati atau dirampas haknya.
Keempatbelas, berkorban apa saja untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintai
Kelimabelas, menyenangi apapun yang membuat senang orang yang dicintai .
Keenambelas, suka menyendiri.
Ketujuhbelas, tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai
Kedelapan belas, helaan nafas yang panjang dan sering.
Kesembilan belas, menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dengan yang dicintai dan membuatnya marah
Keduapuluh, adanya kecocokan antara orang yang mencintai dan yang dicintai
Jika tanda dan bukti itu telah ada maka yang perlu dipertanyakan ditujukan kepada siapakah perasaan cinta itu? Aku memiliki tanda orang yang sedang dimabuk cinta...entah pada siapa ku tujukan cinta ini namun, Janganlah sampai aku tujukan rasa cinta itu sehingga kecintaanku menjadi bathil kecuali kecintaan kepada 4WI dan konsekuensi dari kecintaan kepada-Nya, yaitu cinta kepada rosul, kitab, agama.dan para kekasih-Nya. Berbagai kecintaan inilah yang abadi dan abadi pula buah serta kenikmatannya sesuai dengan abadinya ketergantungan orang tersebut kepada-Nya. Dan keutamaan cinta ini atas kecintaan kepada yang lain sama dengan keutamaan orang yang bergantung kepada-Nya atas orang yang bergantung kepada yang lain. Jika hubungan cinta ini terputus, juga terputus pula sebab-sebab cintanya, maka cinta kepada-Nya akan tetap langgeng abadi.

Dikirim pada 24 Oktober 2009 di idaman


NARASI TENTANG BATAS ”TATAPAN”
(BERTEMU DAN LEPAS)

Tulisan ini kumulai dari persepsiku atas sepenggal firman Allah yang metasosiologis dan penuh makna: ”Katakanlah kepada lelaki yang beriman, hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
Siapa pun dia punya otoritas menginterpretasikan firman ini. Bagiku pribadi, sabda itu bisa pararel dengan kata tatapan (indera) di ruang simulasi publik antara laki-laki dan perempuan. Boleh juga, misalnya, peringatan halus bagi mereka yang berkasih agar menurunkan tensi gelora asmaranya. Atau, menahan tatapan yang dimaksud merupakan tapal batas dari rutinnya pertemuan. Terserah.
Tatapan. Kata itu ibarat dua mata pedang Brotholomeus. Bisa menjadi simbol kebahagiaan, dan bisa juga menjadi mesin penghancur (penghanyut?), tergantung seberapa besar jarak tatapan itu kita kelola.
Tatapan memang mengasyikkan. Toh, dengan instrumen itu orang bisa saling mengenal, tarik-menarik. Bukankah pertama kali aku mengenalmu, beberapa bulan silam, lewat tatapan. Namun, tatapan juga bisa menjadi batu sandungan dan mesin penghancur ketika jarak kelolanya diabaikan. Banyak surat konsultasi bertaburan di koran atau majalah yang mengeluhkan perselingkuhan. Berapa banyak perempuan memendam kepedihan lantaran dibohongi teman kencannya. Dan, mantra-mantra kebohongan itu bertaburan ketika intensitas pertemuan begitu ekstrem dan komplikatif. Orang akan mengeluarkan materi yang bermuatan bohong (basa-basi menurut psikologi juga termasuk kebohongan dalam bentuknya lain) bila kehabisan ”materi” kepada pasangannya (ini penyakit utama kaum puberitas). Disinilah ”kata-kata” tak lagi bertuah.

MATA, dalam ilmu hipnotis, merupakan indera yang paling peka. Lewat matalah jalinan komunikasi berjalan, lalu-lintas kata-kata berseliweran, dan rona-rona menjajakan mimpi-mimpi.
Memang, secara metafisis, Tuhan tidak melarang tatapan karena itu merupakan pintu gerbang manusia menyemaikan salam kepada sesama. Yang diatur oleh Tuhan adalah pengelolaannya. Disana ada batas. Bukankah dalam batas itu menggelegak sebuah kerinduan yang selalu membutuhkan air pertemuan. Terus-menerus.
Kalau kita alihkan sejenak pembicaraan ini kearah yang lebih transendensi, maka pada fase ini sebenarnya Tuhan menggiring kita bergabung dalam kafilah cinta para nabi dan orang-orang salih. Mereka seperti orang kehilangan kesadaran (menurut ukuran akal kita), menggapai-gapai, menggeliat hanya ingin menyentuh Arsy Allah dan dikelompokan dalam cahaya kesucian. Sungguh mengagumkan. Bisakah kita menyentuhnya, minimal mendekatinya?
Bisa, tegas Nabi, perbaiki relasi personalmu dengan memperhatikan batas. Tentunya batas amat relatif. Karena relatifnya, maka tanyalah ”agama” yang bersemayam dalam diri kita masing-masing, yakni hati nurani: apakah tatapan itu membuatan kita lebih tenang atau sebaliknya menggelisahkan dan membuat kita jauh dari Tuhan? Wallahu’alam.

CINTA,bukan teks. Oleh karena itu tidak bisa diinterpretasikan lewat tadabur kata-katA. Ia seperti halnya keadilan. Ia ”ada” yang tak bisa diuraikan dalam khazanah tibanan. Makanya, Jacques Derrida, hanya bisa mengatakan: bila hukum bisa ditafsir, diurai, digugat, diperlihatkan kontradiksi dalam dirinya, cinta tidak. Ia adalah gagasan dari sebuah laku, pengalaman, penantian, kecemasan, dan hasrat untuk bergabung dalam kafilah ruhani (kedamaian) menuju taman surga.
Laku itu tidak kemudian merupakan jalinan kisah yang bebas menggantung dan keluar dari kiri-kanan sejarah. Karena lewat lanskap sejarah jualah manusia kemudian terbelah menjadi makhluk multikecenderungan. Karekter yang berada di titian menuju titik peralihan identitas: selamat atau masuk ke belantara.

SERINGKALI aku menjenuhkan (dan menyebalkan!), kekasih. Tapi tak apa. Toh manusia itu tidak monoton. Aku yakin, kejengahan dan sikapku yang awut-awutan ini suatu hari akan berhenti di sebuah stasiun waktu ketika diriku menemukan kesadaran yang menurutku bisa membebaskan dan mendamaikan hatiku yang kalut (karena sekarang ini aku sedang berjalan menuju-Nya, belajar untuk menjadi yang terbaik untuk-Mu).
Bukan jadi soal bila kadang sinergisitas diriku kerapkali kebablasan, berteriak sekenanya, dan terkadang tak terkontrol. Itu pun merupakan bagian dari kisah diriku sendiri mengais-ngais identitas: pencarian yang ku rambah di tengah keramaian publik. Amat kontras dengan separuh orang yang mengikuti oleh rasa (aku adalah seorang muslim yang akan selalu berusaha menjadi muslim yang terbaik, guna memenuhi kewajiban dan atas semua rasa syukurku kepada Allah).
Tulis Erich Fromm: ” Immature love says, ’I love you because I need you. ‘ Mature love says, ‘ I need you because I love you.”



dedicate to all that I love and care
coz you are is the one’s for me…
Apa yang kutuju adalah apa yang sedang kau tuju…
dan semua itu kuserahkan hanya pada-Nya

Dikirim pada 23 Oktober 2009 di idaman

Sebuah kisah...
Dua orang budak sahaya kakak beradik dibawa kehadapan Al-Mansyur. Kakak beradik tersebut menyukai Al-Mansyur dan menginginkan dirinya saja yang di pilih. Sang kakak berkata," Tuanku, Allah telah mengistimewakan aku darinya dengan firman-Nya,’ Assabiqunal awwaluun’ (orang yang datang lebih dahulu)." Adiknya berkata," Tapi, Allah telah mengistimewakan aku juga dengan firman-Nya,’ Walal akhiratu khaerul laka minal ula’ (Sungguh, yang datang belakangan lebih baik daripada yang pertama)."
Perenungan dalan kesabaran dan ketetapan....

Dikirim pada 22 Oktober 2009 di idaman
Dikirim pada 21 Oktober 2009 di idaman
Awal « 1 » Akhir
Profile

Inya Allah tidak akan berhenti berjuang di jalan Allah...Tharbiyah tetep semangat More About me

Page
Archive
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 30.286 kali


connect with ABATASA